
“Pimpinan mereka pasti ada di dalam sana,” pikir Lynx. “Jika aku bisa masuk, mungkin aku bisa menemukan rencana mereka atau cara untuk membebaskan para tawanan.”

Namun, setelah beberapa saat, Lynx menyadari bahwa usahanya malam ini tidak akan berhasil. Penjagaan ada dimana-mana dan sangat beresiko jika dia terlalu banyak menarik perhatian apalagi mencoba menyerang langsung, dan itu akan membahayakan para tawanan.

"Kita harus berjaga dengan ketat! Jangan biarkan ada orang-orang yang datang untuk menyelamatkan para tawanan. Monrest akan membunuh kita semua jika sampai terjadi kesalahan." Kata salah satu penjaga.

"Huh, aku ingin cepat bergantian berjaga. Para wanita yang kita tangkap ini harus kita nikmati terlebih dahulu sebelum diserahkan untuk di korbankan." Kata penjaga lainnya sambil menelan ludah membayangkan keindahan tubuh para tawanan.

Lynx bergerak mundur sambil mengepalkan tangan menahan emosi. Dia berusaha mencari tempat berlindung untuk sementara. kemudian Dia menemukan sebuah bangunan kosong di pinggiran perkampungan, tampaknya digunakan untuk menyimpan barang-barang yang sudah rusak atau tidak berguna. Lynx masuk dengan hati-hati, memastikan bahwa tidak ada yang mengawasinya.

Di dalam, ia duduk bersandar pada dinding kayu, mencoba meredakan pikirannya yang bergejolak. Pikirannya dipenuhi berbagai strategi, namun setiap langkah yang ia pertimbangkan membawa resiko besar bagi para tawanan.

“Aku butuh lebih banyak informasi,” pikir Lynx. “Aku harus tahu lebih banyak tentang pemimpin mereka dan cara mereka bergerak. Hanya dengan begini aku baru bisa menyusun rencana memastikan mereka semua keluar dengan selamat.”

Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan pikirannya tenang. Di luar, suara tawa dan obrolan kasar para penjaga terus terdengar, menciptakan kontras tajam dengan keheningan di dalam dirinya. Lynx tahu bahwa tantangan besar ada di depannya, dan ia harus siap untuk menghadapi apa pun yang datang.

Ruangan itu gelap, hanya diterangi oleh sinar samar dari bulan yang masuk melalui celah-celah dinding kayu. Lynx duduk di sudut ruangan, tubuhnya sepenuhnya terbenam dalam bayangan. Ia mendengar langkah berat seseorang mendekat.

Tangan Lynx mengepal di samping tubuhnya, bersiap untuk kemungkinan terburuk. Pintu kayu terbuka perlahan dengan suara berderit. Seorang pria bertubuh besar masuk, menyeret seorang wanita muda dengan paksa. Wanita itu menangis pelan, tubuhnya gemetar. Pria itu melemparkan wanita itu ke lantai kasar, senyum licik menghiasi wajahnya.

“Kau beruntung aku memilihmu malam ini,” katanya dengan nada kasar.

"Kumohon! Lepaskan aku!" Kata wanita tersebut.

Pria itu tertawa, "Melepaskanmu? Setelah aku bersusah payah mendapatkanmu? Apa kamu tahu, aku bisa saja melepaskanmu malam ini, tetapi kamu tetap akan melayani ratusan rekan-rekanku." Jawabnya sambil tertawa terbahak-bahak.

Wanita itu menjadi pucat wajahnya, membayangkan pria-pria itu menyentuh dirinya. "Kumohon, tolong bebaskan aku."

Pria tersebut tanpa menjawab, menarik rambut wanita agar mendekat dan mencium bibirnya dengan paksa.

Wanita itu yang kaget dan tidak pernah menerima perlakuan seperti itu berusaha melawan, dia menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha melepaskan diri, namun pria itu menjadi marah dan menamparnya hingga jatuh ke samping.

Wanita itu mencoba merangkak mundur, namun pria itu segera mencengkram lengannya, menariknya mendekat lagi. Air mata wanita itu mengalir deras, wajahnya penuh ketakutan. Di pipinya terlihat bekas tamparan, dan di sela bibirnya terlihat darah mengalir.

"Jangan! Ku mohon!" Teriak wanita itu saat pria itu memasukkan tangannya ke balik pakaian si wanita.

"Berhenti melawan! Atau kubiarkan rekan-rekanku yang lain masuk agar bersama-sama menikmati tubuhmu."

"Tidak! Kumohon, jangan," kata si wanita memelas memohon.

"Aku tidak bisa membiarkannya, aku harus bisa menolongnya." Lynx memutar otaknya dengan cepat. Jika ia menyerang sekarang, ia harus melakukannya tanpa menimbulkan suara sekecil apa pun. Orang-orang di luar bisa mendengar, dan itu akan membahayakan semua orang.

Lynx melihat sebuah peluang. Ketika pria itu mulai menundukkan dirinya ke arah wanita itu, Lynx bergerak dengan kecepatan luar biasa. Dalam sekejap, ia muncul di belakang pria itu dan menghantam tengkuknya dengan sisi telapak tangan.

Pria itu tidak sempat berteriak. Tubuhnya langsung lunglai, jatuh tak bergerak di lantai. Lynx menarik tubuh pria itu ke sudut ruangan, memastikan tidak ada yang bisa melihatnya jika ada yang masuk.

Wanita itu yang masih duduk di lantai, menatap Lynx dengan ekspresi ketakutan yang mendalam. “Ja-jangan sentuh aku!” jeritnya dengan suara tertahan.

Lynx mengangkat kedua tangannya lalu meletakkan jari telunjuknya kedepan bibir, mencoba menunjukkan bahwa ia tidak bermaksud jahat dan memintanya untuk diam. Namun, wanita itu tampaknya terlalu ketakutan untuk mendengarkan. Ia mulai merangkak mundur, matanya berkaca-kaca, tangannya gemetar.

“Tenang,” bisik Lynx, nadanya lembut namun tegas. “Aku di sini untuk menolongmu.”

Namun, wanita itu tampaknya tidak mendengar. Ia membuka mulutnya untuk berteriak. Lynx segera bergerak, menutup mulutnya dengan tangan.

“Diam!” bisik Lynx. “Kau akan membahayakan kita semua! Aku ingin menolongmu dan yang lainnya.”

Namun Wanita itu tetap berusaha meronta. dengan panik, dia melempar benda disekitarnya dan memukul serta mencakar tangan Lynx yang mendekat. Lynx merasakan cakaran tajam di kulitnya, namun dengan kekuatan fisiknya, ia tidak terpengaruh. “Dengar aku! Aku tidak akan menyakitimu! Jika tidak bisa diam, perbuatanmu akan mencelakakan kita semua.”

Lynx tahu situasi ini semakin sulit. Jika wanita itu terus berteriak atau bergerak liar, mereka akan ketahuan. Ia mencoba memberikan isyarat dengan tangannya, berharap wanita itu memahami niat baiknya. Namun, wanita itu terus melawan, akhirnya Lynx terpaksa menahan kedua tangan wanita itu dengan kedua tangannya. Posisi mereka terkesan ambigu, Lynx berada di atas tubuh wanita itu. Wanita itu semakin berontak. Kakinya mencoba menendang Lynx, tangannya berusaha melepaskan cengkraman Lynx.

"Tolong! Tolong! Selamatkan aku!" Teriak wanita itu berkali-kali sambil berusaha melepaskan diri.

“Aku tidak punya pilihan,” gumam Lynx dalam hati, merasa wanita ini sangat menyusahkan.

Dalam upaya terakhir untuk membuat wanita itu diam, Lynx mendekatkan wajahnya dan mencium wanita itu.

"Sialan, bibirnya sangat lembut." Batin Lynx.

Gerakan yang dilakukan Lynx membuat wanita itu tidak bisa bersuara lagi. Ia membeku sejenak, matanya melebar karena terkejut. Lynx memanfaatkan momen itu untuk memperbaiki posisinya dengan menyatukan kedua tangan wanita tersebut dan menahannya dengan satu tangan, sementara tangan satunya menutup mulut wanita itu. Ia menahan tubuh wanita itu dengan lembut namun tegas, memastikan tidak ada suara yang keluar.

Ketika Lynx perlahan-lahan menjauhkan wajahnya, ia melihat wanita itu menatapnya dengan ekspresi campuran antara marah, takut, dan bingung.

"Aku akan melepaskan tanganku, tapi kamu jangan teriak. Aku tidak mau kita semua celaka." Kata Lynx. "Jika kamu setuju, anggukkan kepalamu!" Lanjutnya.

Wanita itu menganggukkan kepala, lalu Lynx melepas tangannya dari mulut wanita itu dengan sangat perlahan, tetap waspada terhadap kemungkinan dia berteriak lagi.

“Dengar,” bisik Lynx. “Aku tahu kau takut. Tapi aku di sini untuk menyelamatkanmu dan orang-orang lain yang ditahan di tempat ini. Aku butuh kau bekerja sama. Bisa kau lakukan itu?”

Wanita itu tetap terdiam, napasnya tersengal-sengal. Air mata masih mengalir di pipinya, namun ia tidak berusaha melawan lagi. Lynx mengambil itu sebagai tanda baik.

“Aku Lynx,” katanya dengan lembut. “Aku datang untuk membebaskan kalian semua. Tapi aku butuh kau tetap tenang agar kita tidak ketahuan. Bisa kau lakukan itu?”

Wanita itu mengangguk pelan, meskipun tubuhnya masih gemetar. Lynx melepaskan cengkeramannya sepenuhnya, membiarkan wanita itu duduk sendiri.

“Dengar,” kata Lynx lagi, kali ini dengan nada lebih tegas. “Aku akan mencari jalan untuk keluar dari sini, tapi kau harus tetap di tempat yang aman sampai aku selesai. Mengerti?”

Wanita itu mengangguk lagi, meskipun ia tidak berkata apa-apa. Lynx berdiri dan memandang sekeliling ruangan, memastikan tidak ada orang lain yang akan masuk.

“Baik,” bisiknya. “Aku akan kembali. Tetap di sini dan jangan membuat suara apa pun.”

Lynx melangkah ke pintu, membuka sedikit untuk mengintip ke luar. Dengan gerakan cepat, ia menghilang ke dalam kegelapan, meninggalkan wanita itu sendirian di dalam ruangan.

